
Dalam dunia bahasa Indonesia, kalimat pasif merupakan salah satu bentuk struktur kalimat yang sering digunakan untuk menyampaikan informasi dengan fokus pada objek atau hasil dari suatu tindakan, bukan pada pelaku tindakan tersebut. Dengan memahami konsep ini, pembicara maupun penulis dapat menghasilkan kalimat yang lebih bervariasi dan sesuai dengan konteks formal maupun informal. Kalimat pasif juga menjadi alat penting dalam mengekspresikan objektivitas, terutama dalam penulisan laporan, artikel ilmiah, atau dokumen resmi.
Karakteristik utama dari kalimat pasif adalah penggunaan awalan "di-" atau "ter-" pada kata kerja, yang menunjukkan bahwa subjek menerima tindakan. Selain itu, pelaku tindakan bisa disebutkan atau tidak, tergantung pada kebutuhan komunikasi. Misalnya, dalam kalimat "Buku itu dibaca oleh Lani," fokus utamanya adalah pada buku yang dibaca, sedangkan pelaku tindakan (Lani) ditempatkan di akhir. Namun, dalam kalimat "Buku itu dibaca," pelaku tindakan tidak disebutkan sama sekali.
Pemahaman tentang kalimat pasif sangat penting karena membantu seseorang menyampaikan pesan dengan lebih tepat dan sesuai dengan situasi. Dalam berbagai situasi, seperti pekerjaan, pendidikan, atau kehidupan sehari-hari, penggunaan kalimat pasif dapat meningkatkan kesan profesional dan objektif. Selain itu, kalimat pasif juga memberikan fleksibilitas dalam penyusunan kalimat, sehingga membuat bahasa lebih kaya dan dinamis.
Ciri-Ciri Kalimat Pasif
Kalimat pasif memiliki beberapa ciri-ciri yang membedakannya dari kalimat aktif. Pertama, subjek dalam kalimat pasif adalah penerima tindakan, bukan pelaku. Dalam kalimat aktif, subjek melakukan tindakan terhadap objek, sedangkan dalam kalimat pasif, subjek menerima tindakan. Kedua, predikat dalam kalimat pasif biasanya diawali dengan imbuhan "di-" atau "ter-". Imbuhan ini menunjukkan bahwa subjek menerima tindakan dari pelaku. Ketiga, pelaku tindakan bisa disebutkan atau tidak disebutkan. Jika ingin menekankan pada pelaku, maka pelaku akan ditambahkan setelah kata kerja. Keempat, fokus utama kalimat pasif adalah pada objek atau hasil tindakan, bukan pada siapa yang melakukan tindakan.
Contoh dari ciri-ciri ini adalah sebagai berikut:
- Subjek sebagai penerima tindakan:
-
Buku itu dibaca oleh Lani.
Fokus utamanya adalah pada buku yang dibaca, bukan pada Lani. -
Predikat diawali dengan "di-" atau "ter-":
-
Pintu itu dikunci oleh satpam.
Kata kerja "dikunci" diawali dengan "di-", menunjukkan bahwa pintu menerima tindakan. -
Pelaku bisa disebutkan atau tidak:
-
Surat itu sudah dikirim.
Pelaku tidak disebutkan, tetapi jika ingin menekankan, bisa ditambahkan: Surat itu sudah dikirim oleh pos. -
Fokus pada objek atau hasil tindakan:
- Film ini disutradarai oleh sutradara terkenal.
Fokus utamanya adalah pada film, bukan pada sutradara.
Struktur Dasar Kalimat Pasif
Struktur dasar dari kalimat pasif dalam bahasa Indonesia umumnya terdiri dari tiga komponen: subjek, predikat, dan objek. Namun, dalam kalimat pasif, objek menjadi subjek, sedangkan pelaku tindakan menjadi objek tambahan. Berikut struktur dasarnya:
Subjek (objek dari kalimat aktif) + Predikat (diawali dengan "di-" atau "ter-") + Objek (pelaku tindakan)
Contoh:
- Kalimat aktif: Lani membaca buku.
- Kalimat pasif: Buku itu dibaca oleh Lani.
Dalam kalimat pasif, subjeknya adalah "buku", predikatnya adalah "dibaca", dan objeknya adalah "oleh Lani". Meskipun strukturnya berbeda, makna intinya tetap sama, yaitu bahwa buku mendapat tindakan dari Lani.
Beberapa contoh lainnya:
- Makanan itu dimakan oleh adik.
Subjek: makanan, Predikat: dimakan, Objek: oleh adik.
- Rumah itu dibangun oleh kontraktor.
Subjek: rumah, Predikat: dibangun, Objek: oleh kontraktor.
Dalam beberapa kasus, pelaku tindakan bisa tidak disebutkan, seperti dalam kalimat: Buku itu dibaca. Dalam hal ini, fokus utamanya adalah pada buku, dan pelaku tindakan tidak perlu disebutkan.
Contoh Kalimat Pasif dalam Bahasa Indonesia
Berikut adalah beberapa contoh kalimat pasif yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia, baik dalam konteks formal maupun informal:
- Surat itu sudah dikirim ke kantor pos.
- Makanan itu sudah dimakan oleh adik.
- Buku ini telah dibaca oleh semua siswa.
- Rumah itu dibangun oleh kontraktor terkenal.
- Pintu itu dikunci oleh satpam setiap malam.
- Kue ini dibuat oleh nenekku.
- Uang itu ditemukan di bawah meja.
- Sepeda itu telah diperbaiki oleh ayah.
- Laporan itu telah diserahkan ke kepala sekolah.
- Komputer ini dipakai oleh banyak karyawan.
- Gambar itu digambar oleh seorang pelukis terkenal.
- Pakaian ini sudah dicuci oleh ibu.
- Mobil itu dicuri tadi malam.
- Permintaan maaf telah diterima oleh semua pihak.
- Dokumen itu sudah ditandatangani oleh direktur.
- Lagu itu dinyanyikan oleh penyanyi terkenal.
- Film ini disutradarai oleh seorang sutradara terkenal.
- Anak-anak sudah diberi makan siang.
- Gelas itu dipecahkan oleh kucing.
- Kamar ini telah dibersihkan oleh petugas kebersihan.
- Soal ujian dibagikan oleh guru.
- Laptop itu sudah dipinjam oleh teman saya.
- Jembatan ini dirancang oleh insinyur yang berpengalaman.
- Pelanggan itu dilayani dengan cepat.
- Kunci mobil ditemukan di bawah kursi.
- Ponsel ini dijual dengan harga diskon.
- Bukunya sudah dikembalikan ke perpustakaan.
- Gedung ini dibangun tahun lalu.
- Tugas itu sudah diselesaikan oleh para siswa.
- Kursi ini dipindahkan ke ruangan sebelah.
- Tanaman itu disiram setiap pagi.
- Film itu ditonton oleh jutaan orang.
- Presentasi itu disiapkan oleh tim pemasaran.
- Data itu diinput oleh operator komputer.
- Kaca jendela dipecahkan oleh angin kencang.
- Pelajaran ini dijelaskan oleh guru dengan baik.
- Pakaian ini sudah disetrika oleh asisten rumah tangga.
- Bunga-bunga disiram setiap sore.
- Permintaan itu ditolak oleh manajer.
- Meja ini dipindahkan ke ruangan lain.
- Ruang tamu sudah dibersihkan.
- Tembok itu sudah dicat ulang.
- Kue itu dipotong menjadi beberapa bagian.
- Mobil itu sudah diperbaiki di bengkel.
- Surat itu sudah disegel oleh petugas.
- Ujian sudah dilaksanakan minggu lalu.
- Pintu rumah dikunci dengan gembok besar.
- Gelas itu dijatuhkan oleh anak kecil.
- Roti itu dipanggang selama satu jam.
- Buku harian itu ditemukan di laci meja.
Manfaat Menggunakan Kalimat Pasif
Penggunaan kalimat pasif memiliki beberapa manfaat, terutama dalam konteks formal dan objektif. Pertama, kalimat pasif membantu menjaga objektivitas dalam penulisan laporan atau artikel ilmiah. Dengan fokus pada objek, bukan pada pelaku tindakan, informasi yang disampaikan terkesan lebih netral dan tidak memihak.
Kedua, kalimat pasif memberikan fleksibilitas dalam penyusunan kalimat. Dalam beberapa situasi, menekankan pada objek atau hasil tindakan lebih efektif daripada menekankan pada pelaku. Misalnya, dalam laporan keuangan, kalimat pasif sering digunakan untuk menjelaskan proses tanpa menyebutkan nama orang yang melakukan tindakan.
Ketiga, kalimat pasif cocok digunakan dalam situasi yang membutuhkan bahasa yang lebih sopan atau formal. Dalam dunia kerja, misalnya, kalimat pasif sering muncul dalam instruksi kerja atau dokumen resmi. Contohnya: Laporan ini telah diserahkan atau Perangkat lunak ini telah diinstal.
Keempat, kalimat pasif membantu menghindari kesan menyalahkan atau menuduh. Dalam beberapa situasi, menekankan pada tindakan yang dilakukan, bukan pada pelaku, dapat mengurangi konflik atau kesan negatif.
Kesimpulan
Kalimat pasif adalah salah satu bentuk struktur kalimat yang penting dalam bahasa Indonesia. Dengan fokus pada objek atau hasil tindakan, kalimat pasif membantu menyampaikan informasi secara objektif dan bervariasi. Karakteristik utama dari kalimat pasif termasuk penggunaan awalan "di-" atau "ter-", subjek sebagai penerima tindakan, serta kemungkinan penyertaan atau tidaknya pelaku tindakan.
Dengan memahami struktur dan ciri-ciri kalimat pasif, seseorang dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Penggunaan kalimat pasif juga sangat berguna dalam berbagai konteks, seperti laporan, artikel, atau dokumen resmi. Oleh karena itu, pemahaman tentang kalimat pasif sangat penting bagi setiap pembelajar bahasa Indonesia.
0Komentar