BSM8GpO9TfAoTpW6BUO0Gfr0TY==

Tim Pengabdian SICS Mahasiswa UPGRIS Pelajari Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat dari Limbah Kerang di Desa Serangan Bali

Tim Pengabdian International Community Service (ICS) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) bersama dosen dan mahasiswa lintas perguruan tinggi untuk memp
Ukuran huruf
Print 0
Tim Pengabdian SICS Mahasiswa UPGRIS

Suara Baru, Denpasar - Suasana hangat terlihat di salah satu sudut Desa Serangan, Denpasar, Bali, Selasa (30/6/2026), saat rombongan mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berdiskusi dengan para pengrajin kerang setempat.

Di desa pesisir yang dikenal dengan kekayaan sumber daya lautnya ini, tumpukan cangkang kerang yang sebelumnya dianggap limbah justru disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Potensi inilah yang mendorong Tim Pengabdian International Community Service (ICS) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) bersama dosen dan mahasiswa lintas perguruan tinggi untuk mempelajari langsung proses pengolahan kerajinan kerang serta berdialog dengan para pengrajin. 

Kegiatan tersebut bertujuan untuk memahami transformasi digital dan pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan, serta menggali tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan warisan kerajinan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, tim mempelajari berbagai jenis cangkang kerang yang berasal dari limbah restoran di sekitar Desa Serangan dan diolah menjadi gantungan kunci, hiasan dinding, aksesoris, pigura, dan berbagai produk lain yang memiliki nilai seni tinggi. 

Produk-produk tersebut telah dipasarkan baik di pasar lokal maupun mancanegara. Meski penjualan utamanya menyasar pasar dalam negeri, produk kerajinan kerang Desa Serangan juga telah menembus pasar ekspor ke berbagai negara.

Keberhasilan menembus pasar internasional menjadi bukti bahwa produk lokal masyarakat Desa Serangan memiliki kualitas dan daya saing yang tinggi. 

Namun, dari hasil diskusi dengan para pengrajin, tim mengetahui bahwa mempertahankan eksistensi kerajinan ini bukanlah perkara mudah. 
Prodak Hasil Kerajinan dari Limbah Kerang

Para pengrajin menekankan bahwa dibutuhkan ketekunan dan kemauan belajar terus-menerus untuk menghasilkan produk berkualitas.

Dalam proses produksinya, para pengrajin berkomitmen hanya menggunakan limbah kerang yang sudah tidak terpakai seperti limbah dari restoran. 

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan upaya menjaga ekosistem laut, mengingat terdapat beberapa jenis kerang yang dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan.

Tidak hanya mengedepankan aspek lingkungan, kelompok pengrajin juga menerapkan sistem usaha yang berkeadilan. 

Hasil penjualan produk dibagi secara proporsional, yaitu 50 persen untuk para pengrajin yang terlibat langsung dalam proses produksi dan 50 persen lainnya digunakan untuk pengembangan usaha, pembelian bahan baku, serta kebutuhan operasional kelompok.

Selain memproduksi kerajinan, tempat usaha ini juga rutin mengadakan pelatihan dan sesi eksperimen pembuatan kerajinan kerang bagi pengunjung yang ingin belajar. 

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat dan edukasi kreatif, sekaligus memperkenalkan proses panjang di balik setiap produk kerajinan yang dihasilkan. 

Para pengunjung diajak merasakan langsung bagaimana ketekunan dan pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menciptakan kerajinan berkualitas ekspor.

Dari sesi tanya jawab, tim pengabdian SICS Mahasiswa UPGRIS mengetahui bahwa meski memiliki potensi besar, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah regenerasi. 

Banyak anak muda di Desa Serangan lebih tertarik bekerja di sektor formal atau mencari pekerjaan di kota besar dibandingkan meneruskan usaha kerajinan yang dianggap kurang menjanjikan.

Sekretaris lurah Serangan (Ketut Suriati) dan pemilik usaha UMKM Kerajinan Kerang (I Made Kanan Jaya), menyambut baik program SICS 2026 dan kegiatan studi lapangan yang dilakukan Tim Pengabdian SICS Mahasiswa UPGRIS di Desa Serangan Bali. 

Menurut mereka, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat menjadi energi baru bagi pengembangan ekonomi kreatif desa.

"Kami berharap anak-anak muda di Desa Serangan dapat melihat bahwa kerajinan kerang bukan hanya warisan budaya, tetapi juga peluang usaha yang menjanjikan. Kehadiran Tim Pengabdian ICS Mahasiswa UPGRIS untuk mempelajari dan berdiskusi dengan kami memberikan semangat baru bagi masyarakat untuk terus berinovasi. Ketekunan dan belajar terus adalah kunci, seperti yang kami ajarkan kepada setiap pengunjung yang datang untuk belajar dan bereksperimen membuat kerajinan kerang, " ujar I Made Kanan Jaya (pemilik usaha UMKM Kerajinan Kerang

Bagi masyarakat Desa Serangan, kerajinan kerang bukan sekadar produk ekonomi. Di balik setiap hiasan dan aksesori yang dihasilkan, tersimpan cerita tentang kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan perjuangan menjaga identitas lokal di tengah arus modernisasi.
Tim Pengabdian SICS Mahasiswa UPGRIS Pelajari Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat dari Limbah Kerang di Desa Serangan Bali
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin