Sadaria Bawa Duta Petani Milenial Polewali Mandar Menuju Ekosistem Pertanian Berbasis Data
![]() |
| Sadaria Bawa Duta Petani Milenial Polewali Mandar Menuju Ekosistem Pertanian Berbasis Data |
SUARABARU, JAKARTA — Ketua Duta Petani Milenial Polewali Mandar, Sadaria, mendorong transformasi organisasi petani muda menuju ekosistem pertanian yang lebih profesional, adaptif, dan berbasis data.
Langkah tersebut diwujudkan melalui penjajakan kolaborasi bersama Agribis.id untuk melihat peluang pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung penguatan kapasitas, pengelolaan usaha, dan akses petani di Polewali Mandar.
Bagi Sadaria, digitalisasi bukan sekadar tentang menggunakan aplikasi. Teknologi harus mampu membantu petani memahami kondisi usaha secara lebih objektif, mulai dari produksi, biaya, penjualan, stok, hingga keuntungan.
“Kami ingin Duta Petani Milenial tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya anak muda pertanian. Organisasi ini harus menjadi ruang untuk meningkatkan kapasitas, membangun usaha, membuka akses, dan menghubungkan petani dengan berbagai pihak,” ujar Sadaria.
Menurutnya, salah satu tantangan pelaku usaha saat ini adalah belum optimalnya pengelolaan data. Padahal, data sangat penting untuk mengetahui apakah sebuah usaha benar-benar sehat dan menguntungkan.
“Kadang omzet meningkat dan kita merasa usaha berkembang. Tetapi belum tentu keuntungan ikut meningkat. Dengan data, kita bisa melihat apakah benar-benar untung, masalahnya ada di mana, dan keputusan apa yang harus diambil,” jelasnya.
Data untuk Membuka Lebih Banyak Akses
Sadaria menilai, data yang tertata juga akan memperkuat posisi petani ketika berhadapan dengan pemerintah, investor, perbankan, maupun berbagai program nasional.
“Data bukan hanya untuk meyakinkan pemerintah, investor atau bank. Data pertama-tama harus bisa meyakinkan kita sendiri sebagai pelaku usaha. Kita harus tahu kondisi usaha kita secara nyata sebelum meminta pihak lain percaya,” katanya.
Karena itu, Duta Petani Milenial Polewali Mandar ke depan diarahkan tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga mampu membangun basis data dan memahami potensi, kebutuhan, serta kapasitas petani dalam ekosistemnya.
Dengan data yang kuat, organisasi diharapkan dapat menjadi penghubung yang lebih efektif antara petani dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, maupun mitra pembangunan.
“Kalau kita punya data yang kuat, kita tidak lagi hanya mengatakan bahwa petani kita banyak atau potensinya besar. Kita bisa menunjukkan datanya, kebutuhannya, kapasitasnya, dan apa yang bisa kita kerjakan bersama,” ungkap Sadaria.
Transformasi Dimulai dari Usaha Sendiri
Komitmen digitalisasi tersebut juga mulai diterapkan Sadaria dalam usaha yang dijalankannya melalui Agie Mandar Inspirations.
Ia menyadari bahwa pertumbuhan usaha membutuhkan sistem pengelolaan yang semakin rapi dan terukur. Karena itu, pencatatan produksi, persediaan, biaya, penjualan, hingga profitabilitas perlu dibangun secara digital agar perkembangan usaha dapat dipantau dan dievaluasi secara berkala.
“Usaha saya pribadi juga sedang diarahkan untuk semakin go digital. Bukan hanya supaya terlihat modern, tetapi supaya pertumbuhan dan seluruh prosesnya bisa dimonitor. Dengan data yang tertata, kita bisa lebih mudah mengetahui apakah benar-benar untung, apa masalahnya, dan apa yang harus diperbaiki,” tutur Sadaria.
Menurutnya, profesionalisasi usaha juga akan meningkatkan kesiapan pelaku usaha ketika membangun kerja sama dengan pemerintah, investor, perbankan, maupun mengikuti berbagai program pengembangan usaha.
Membangun Petani Muda sebagai Mitra Strategis
Penjajakan bersama Agribis.id diharapkan dapat berkembang menjadi program konkret yang memberikan manfaat langsung bagi petani di Polewali Mandar, khususnya dalam penguatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi.
Sadaria menegaskan bahwa petani muda tidak seharusnya hanya menjadi penerima program. Mereka perlu berkembang menjadi pelaku usaha dan mitra strategis dalam pembangunan pertanian daerah.
“Kita ingin petani muda Polewali Mandar bukan hanya menjadi objek program, tetapi menjadi pelaku dan mitra strategis. Kalau organisasi kuat, data kuat, dan usaha kuat, semakin banyak pintu kolaborasi yang bisa kita buka untuk petani,” tutup Sadaria.
